Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga? Harus!!!

16.47 Add Comment

Tidak sedikit wanita yang lebih bangga menyebutkan profesinya sebagai wanita karir, baik itu guru, sekretaris, karyawan sebuah perusahaan besar, manager, atau profesi lainnya daripada menyebut dirinya sebagai ibu rumah tangga.
Surat at-Tahrim ayat 6
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)
Dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.” (HR. Bukhari)

Pekerjaan ibu rumah tangga seutuhnya adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia. Dalam satu hari harus merangkap berbagai macam pekerjaan. Dari bangun lebih awal, bersihin rumah, cucian piring, baju-baju kotor, mengumpulkan dan membuang sampah, membuatkan sarapan, menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak, menjemur pakaian, mengantar anak ke sekolah, membantu tugas-tugas suami, tugas sekolah anak dan masih banyak lainnya.
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga? Harus!!!
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga? Harus!!!

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga? Harus!!!

Bangga menjadi ibu rumah tangga? Harus!!! kenapa?karena pekerjaan itu sungguh mulia dan sesuatu yang mulia itu tidak dapat dinilai dengan nominal, tetapi dibalas dengan pahala yang berbuah Surga. Surga itu kekal abadi dan tidak ada habisnya.
Lihat bagaimana seorang pembantu rumah tangga, mereka bekerja dari pagi sampai malam untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan melayani majikannya demi uang. Tapi ibu rumah tangga yang mengurus segala keperluan suami dan anak, mengurus dan mengkondisikan rumah, mengatur keuangan keluarga, dan melayani segala kebutuhan bersama tanpa ada imbalan atau gaji sepeserpun. Namun Allah SWT. yang akan menggajinya dengan limpahan pahala dan Surga.
Lihat bagaimana istimewanya seorang wanita yang sudah berumah tangga dalam Islam, sholatnya, ibadahnya, membantu suami dan anak dalam meningkatkan ibadah dan dalam hal muamalah, mengandung, melahirkan, memberikan ASI, mendidik anak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw., melayani suami, mencucikan pakaian suami dan lain sebagainya adalah ibadah yang pahalanya sungguh luar biasa.
“Tapi saya gak pede hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja, kesannya kok rendah banget ya? sekolah tinggi-tinggi, IPK cumlaude ko cuma jadi ibu rumah tangga, nanti ilmunya ga bermanfaat lagi, trus gelar sarjananya dikemanain?“.
Astaghfirullah Rendah? Apanya sih yang rendah, ga manfaat bagaimana? Siapa yang berani me-judge surga itu rendah? Surga itu tidak akan bisa diperoleh hanya dengan angan-angan saja tanpa kita melakukan apa yang sudah menjadi syaratnya.
“Tahu cuma jadi ibu rumah tangga aja buat apa sekolah tinggi-tinggi, menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan biaya.” Please itu hanyalah pendapat mereka yang tidak tahu betapa penting dan butuhnya sosok ibu yang cerdas, pandai, pintar, memiliki pola pikir yang hebat, disiplin, produktif, bertanggung jawab, berwawasan luas dan lain sebagainya. Justru akan lebih bangga menjadi seorang ibu yang berpendidikan tinggi, karena anak-anaknya akan terdidik oleh sarjana atau master sejak dini.
Bukan merendahkan babysitter ataupun pembantu. Boleh mencari pembantu untuk membantu meringankan tugas rumah yang seabrek-abrek. Tapi tetap, ibu rumah tangga sangat berperan dalam mengkondisikan rumah. Dan kita tidak boleh minder menjadi ibu rumah tangga. Yang terpenting adalah sudahkah menjadi ibu rumah tangga yang hebat, profesional dan handal?
Jika ingin membantu suami dalam mencari nafkah, bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak menyita banyak  waktu untuk keluarga, misalnya menjadi seorang guru, usaha sampingan yang bisa dikerjakan lewat media sosial atau online, dan pekerjaan lain yang tidak melepaskan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Demikianlah uraian tentang Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga? Harus!!!, semoga bermanfaat dan tidak ada lagi sahabat muslimah yang malu hanya karena berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja. Kecuali menjadi ibu rumah tangga yang totalitasnya dalam mengurus rumah kurang, seperti jarang melayani suami (segala kebutuhannya baik makanan, pakaian, kebutuhan biologisnya, dll), serta kurangnya mengurus anak (baik dalam segi mendidik, mengasuh, memberikan dan menyiapkan makanan, perhatian, mencucikan pakaiannya, kasih sayang, dll). catatanmuslimah.com
BACA JUGA;

INILAH Manfaat Buah ALPUKAT Bagi Ibu HAMIL dan JANIN

Cara Ampuh Membuat Anak Sholat TANPA Debat, Keringat, Urat & Pengingat

17.37 Add Comment

Bagaimana membuat anak-anak Anda taat akan ibadah yang agung ini? Bagaimana membuat anak-anak kita Sholat dengan kesadaran mereka sendiri tanpa diperintah, tanpa berdebat dahulu dan disiplin mendirikannya tanpa perlu diingatkan?

Apakah anak-anak Anda enggan dan malas untuk sholat? Atau bahkan mereka membuat jengkel saat mengingatkan untuk sholat? Mari kita lihat bagaimana kita bisa mengubahnya.

Ini adalah pengalaman seorang wanita yang memiliki anak perempuan yang sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Baiklah inilah cerita darinya dengan bahasa yang telah disesuaikan.

Sholat bagi anakku sepertinya hal yg sangat berat, sampai-sampai suatu hari aku berkata kepadanya: "Bangun!! Sholat!!", dan aku mengawasinya dari jauh.

Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai. Kemudian ia mendatangiku.

Aku bertanya kepadanya: "Apakah kamu sudah sholat?"
Ia menjawab: " Sudah "?

Kemudian aku marah dengan sangat keras, karena ia berbohong tentang itu. Aku tahu aku salah, tetapi kondisinya memang benar-benar membuatku sedih.

Air mataku tak terbendung disitu...

Aku benar-benar emosi dan marah pada putriku, aku gertak dengan keras dan aku menakutinya dengan siksa neraka.

Tapi apa yang terjadi...ternyata semua ocehanku itu seperti tidak didengar dan tidak bermanfaat sekali.

Hingga suatu hari, seorang sahabatku bercerita ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa2 saja dari segi agama) , tapi ketika datang waktu sholat, semua anak-anaknya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah dan atas kesadaran sendiri.

Aku berkata padanya "Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dgn kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan dengan keras tanpa perlu kita marah-marah?"

Ia menjawab: "Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO'A ini, dan sampai saat ini pun aku selaku berdoa dengan DO'A tersebut.

Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dengan do'a ini.

Dalam sujudku...
Saat sebelum salam...
Ketika witir...
Dan disetiap waktu-waktu yang mustajab...

Wahai saudara-saudaraku...
Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA.

Sejak aku memulai berdoa dengan doa itu sampai saat ini, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat.

Dan adik-adiknya, Alhamdulillah...mereka semua selalu menjaga sholat.

Saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat.

Aku tahu Anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu?

Doa ini ada di QS.Ibrahim: 40

( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ
وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء )
(إبراهيم ، 40)

"Robbij 'alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyyatii robbanaa wa taqobbal du'aa"

Artinya :
"Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Robb, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim: 40)

Doa...Doa...dan Doa...
Sebagaimana Anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin.

Bagikan tulisan ini dengan menekan tombol share ke sosial media kamu agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat.

Jika anda terkesan dgn tulisan ini,
katakan: "Semoga Allah merahmati orang yang mengamalkan doa tersebut. Aamiin.
sumber: liqonet.blogspot.com

BACA JUGA:

Jangan Lakukan 8 Hal Ini Pada Anak!

WAHAI Istri Ta’ati Suamimu, Surga Bagimu

22.07 Add Comment

Dalam bingkai rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya baik dalam urusan agama atau dunianya, menafkahi mereka dengan memenuhi kebutuhan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya.
Tanggungjawab suami yang tidak ringan diatas diimbangi dengan ketaatan seorang istri pada suaminya. Kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam urusan agamanya. Hak suami diatas hak siapapun setelah hak Allah dan Rasul-Nya, termasuk hak kedua orang tua. Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang istri.
Surga atau Neraka Seorang Istri
Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantaranya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim)
Kedudukan Hak Suami
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)
Hak suami berada diatas hak siapapun manusia termasuk hak kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan oleh seorang istri daripada ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan berpuasa sementara suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya. Dan tidak boleh baginya meminta izin di rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR Bukhari Muslim)
Dalam hak berhubungan suami-istri, jika suami mengajaknya untuk berhubungan, maka istri tidak boleh menolaknya.
“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)
Berbakti Kepada Suami
Diantara kewajiban seorang istri atas suaminya juga adalah, hendaknya seorang istri benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya, baik harta suami dan rahasia-rahasianya, begitu juga bersungguhnya-sungguh mengurus urusan-urusan rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan wanita adalah penanggungjawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR Bukhari Muslim)
Syaikhul Islam berkata, “Firman Allah, “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisa [4]: 34)
Ayat ini menunjukkan wajibnya seorang istri taat pada suami dalam hal berbakti kepadanya, ketika bepergian bersamanya dan lain-lain. Sebagaimana juga hal ini diterangkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Majmu Al Fatawa 32/260-261 via Tanbihat, hal. 94, DR Shaleh Al Fauzan)
Berkhidmat kepada suami dengan melayaninya dalam segala kebutuhan-kebutuhannya adalah diantara tugas seorang istri. Bukan sebaliknya, istri yang malah dilayani oleh suami. Hal ini didukung oleh firman Allah, “Dan laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita.” (QS. An Nisa [4]: 34)
Ibnul Qayyim berdalil dengan ayat diatas, jika suami menjadi pelayan bagi istrinya, dalam memasak, mencuci, mengurus rumah dan lain-lain, maka itu termasuk perbuatan munkar. Karena berarti dengan demikian sang suami tidak lagi menjadi pemimpin. Justru karena tugas-tugas istri dalam melayani suami lah, Allah pun mewajibkan para suami untuk menafkahi istri dengan memberinya makan, pakaian dan tempat tinggal. (Lihat Zaad Al-Ma’aad 5/188-199 via Tanbihat, hal. 95, DR Shaleh Al Fauzan)
Bukan juga sebaliknya, istri yang malah menafkahi suami dengan bekerja di luar rumah untuk kebutuhan rumah tangga.
Tidak Keluar Rumah Kecuali Dengan Izin Suami
Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena tempat asal wanita itu di rumah. Sebagaimana firman Allah, “Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian.” (QS. Al Ahzab [33]: 33)
Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir Al Quran Al Adzim 6/408). Dengan demikian, wanita tidak boleh keluar rumah melainkan untuk urusan yang penting atau termasuk kebutuhan seperti memasak dan lain-lain. Jika bukan urusan tersebut, maka seorang istri tidak boleh keluar rumah melainkan dengan izin suaminya.
Syaikhul Islam berkata, “Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”
Penutup
Semua ketentuan yang telah Allah tetapkan di atas sama sekali bukan bertujuan membatasi ruang gerak para wanita, merendahkan harkat dan martabatnya, sebagaimana yang didengungkan oleh orang-orang kafir tentang ajaran Islam. Semua itu adalah syariat Allah yang sarat dengan hikmah. Dan hikmah dari melaksanakan dengan tulus semua ketetapan Allah di atas adalah berlangsungnya bahtera rumah tangga yang harmonis dan penuh dengan kenyamanan. Ketaatan pada suami pun dibatasi dalam perkara yang baik saja dan sesuai dengan kemampuan. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita semua keluarga yang barakah. Wallahu ‘alam.
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc
(muslim/muslimahzone.com)
BACA JUGA; 

Tak Ada Istri yang Tak Retak

INILAH 6 Amalan Yang Memudahkan Rezeki Menghampiri Kita

21.56 Add Comment

TENTUNYA setiap dari kita berharap agar Allah memudahkan membuka pintu rezeki bagi kita. Namun sangat disayangkan jika kita hanya berharap tanpa melakukan usaha apapun. Seringkali kita menginginkan kemudahan dalam rezeki, tapi shalat saja masih bolong-bolong. Maka dari itu, perlu adanya amalan-amalan yang akan lebih mendekatkan kita pada Allah dan Allah memudahkan urusan rezeki kita. Berikut ini terdapat 6 amalan yang InsyaAllah memudahkan membuka pintu rezeki Anda.
  1. Istighfar
Allah Ta’ala berfirman,
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
       2. Menjalin silaturahim
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).
     3. Memperbanyak sedekah
Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)
4. Bertakwa pada Allah
Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
5. Melakukan haji dan umrah
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.” (HR. An-Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1: 387. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
6. Memperbanyak doa minta rezeki
Doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan:
Setiap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Shubuh, setelah salam, beliau membaca do’a berikut,
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Artinya:
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Juga do’a lainnya dari hadits ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan doa berikut,
Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.
Artinya:
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Setelah melakukan amalan-amalan yang bisa mendekatkan kita pada Allah tersebut, sudah seharusnya kita menghindarkan diri dari segala sesuatu yang haram.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).[]

Sumber; islampos.com

SUAMI WAJIB TAHU! Batas Waktu Tidak Memberikan 'JATAH' Kepada Istri

03.21 Add Comment
Urusan biologis dalam berumah tangga menjadi salah satu aspek penunjang kebahagiaan. Tidak hanya istri yang harus melayani suami secara lahir batin, tapi sang pemimpin rumah tangga ini juga memiliki kewajiban serupa.

Namun dalam satu kondisi, suami dan istri bisa saja terpisah jauh dalam jangka waktu yang lama. Sehingga dalam rentang waktu tersebut kebutuhan biologis istri tidak terpenuhi.




Tidak hanya jarak, terkadang ada hal-hal lain yang menyebabkan suami tidak memberi nafkah ini kepada istrinya. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap hal ini? Kapan batas minimal suami tidak memberikan nafkah biologis kepada istrinya?

Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal berumah tangga.  Hal ini mungkin terdengar klasik, namun agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW  ini juga sudah mengaturnya untuk menjaga keutuhan rumah tangga umatnya. Menurut Ibnu Hazm berkata, suami wajib menjimak istrinya sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan jika ia mampu.

Untuk urusan ini, Allah SWT memang sudah memerintahkan hamba-hamba-Nya yakni pria yang sudah menikah untuk memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Hal ini dijelaskan dalam banyak ayat, dua ayat berikut menjelaskan hal tersebut.

“..apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu…” (QS. Al Baqarah: 222).

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya” (QS. Al Baqarah: 223).

Namun fakta dalam kehidupannya tidak selamanya urusan nafkah biologis ini berjalan lancar. Pasalnya ada hal-hal yang membuat pasangan suami menahan hasrat biologisnya.

Berbeda dengan Ibnu Hazm, Imam Ahmad mengatakan bahwa batas minimal suami tidak memberikan hak biologis istrinya dalah empat bulan. Pendapat ini berpijak pada ketetapan yang dibuat oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.

Kala itu, Islam tengah dalam masa jaya karena berhasil menang dalam setiap peperangan. Para bala tentara dengan gagah berani menerjang lawan membawa bendera Islam untuk melawan musuh. Namun dibalik kemenangan yang diterima, ada hati istri yang sedih karena ditinggal suaminya bertugas untuk berperang.

Hal ini yang diketahui oleh Umar bin Khattab saat melakukan blusukan ke kampung-kampung. Saat menjumpai sebuah rumah, khalifah kedua ini mendengaran syair seorang wanita yang begitu sedih. Ia begitu merindukan suaminya yang sudah bertugas selama berbulan-bulan.

“Alangkah ringannya  bagi  umar bin Khattab dan bagaimana gelisahnya seorang istri yang telah lama ditinggalkan oleh  suaminya”

Begitulah potongan syair yang diucapkan wanita tersebut. Hal ini tentu saja membuat Umar bin Khattab gundah. Ia lantas bergegas menemui putrinya Hafsoh untuk meminta pertimbangan tentang berapa bulan seorang wanita mampu bertahan tanpa suaminya, apa kata Hafsoh :”sekuat-kuat wanita dia hanya bisa bertahan selama empat bulan"

Sejak itu Umar menyuruh pasukan yang sudah dimedan perang selama empat bulan untuk pulang dan digantikan dengan pasukan yang lain.

Sementara itu, menurut Imam Al Ghazali, suami seharusnya menjimak istri setiap empat malam satu kali. Hal ini berdasarkan batas poligami dalam Islam yang berjumlah empat orang. Namun boleh diundurkan dari waktu tersebut bahkan sangat bijaksana kalau lebih dari sekali dalam empat malam atau kurang dari itu, sesuai kebutuhan istri dalam memenuhi kebutuhan seksualnya.  Meski terdapat perbedaan di kalangan ulama, namun setiap perbedaan itu ada faedah bagi umat.  

video