Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Cara Ampuh Membuat Anak Sholat TANPA Debat, Keringat, Urat & Pengingat

17.37 Add Comment

Bagaimana membuat anak-anak Anda taat akan ibadah yang agung ini? Bagaimana membuat anak-anak kita Sholat dengan kesadaran mereka sendiri tanpa diperintah, tanpa berdebat dahulu dan disiplin mendirikannya tanpa perlu diingatkan?

Apakah anak-anak Anda enggan dan malas untuk sholat? Atau bahkan mereka membuat jengkel saat mengingatkan untuk sholat? Mari kita lihat bagaimana kita bisa mengubahnya.

Ini adalah pengalaman seorang wanita yang memiliki anak perempuan yang sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Baiklah inilah cerita darinya dengan bahasa yang telah disesuaikan.

Sholat bagi anakku sepertinya hal yg sangat berat, sampai-sampai suatu hari aku berkata kepadanya: "Bangun!! Sholat!!", dan aku mengawasinya dari jauh.

Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai. Kemudian ia mendatangiku.

Aku bertanya kepadanya: "Apakah kamu sudah sholat?"
Ia menjawab: " Sudah "?

Kemudian aku marah dengan sangat keras, karena ia berbohong tentang itu. Aku tahu aku salah, tetapi kondisinya memang benar-benar membuatku sedih.

Air mataku tak terbendung disitu...

Aku benar-benar emosi dan marah pada putriku, aku gertak dengan keras dan aku menakutinya dengan siksa neraka.

Tapi apa yang terjadi...ternyata semua ocehanku itu seperti tidak didengar dan tidak bermanfaat sekali.

Hingga suatu hari, seorang sahabatku bercerita ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa2 saja dari segi agama) , tapi ketika datang waktu sholat, semua anak-anaknya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah dan atas kesadaran sendiri.

Aku berkata padanya "Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dgn kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan dengan keras tanpa perlu kita marah-marah?"

Ia menjawab: "Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO'A ini, dan sampai saat ini pun aku selaku berdoa dengan DO'A tersebut.

Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dengan do'a ini.

Dalam sujudku...
Saat sebelum salam...
Ketika witir...
Dan disetiap waktu-waktu yang mustajab...

Wahai saudara-saudaraku...
Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA.

Sejak aku memulai berdoa dengan doa itu sampai saat ini, anakkulah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat.

Dan adik-adiknya, Alhamdulillah...mereka semua selalu menjaga sholat.

Saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat.

Aku tahu Anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu?

Doa ini ada di QS.Ibrahim: 40

( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ
وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء )
(إبراهيم ، 40)

"Robbij 'alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyyatii robbanaa wa taqobbal du'aa"

Artinya :
"Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Robb, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim: 40)

Doa...Doa...dan Doa...
Sebagaimana Anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin.

Bagikan tulisan ini dengan menekan tombol share ke sosial media kamu agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat.

Jika anda terkesan dgn tulisan ini,
katakan: "Semoga Allah merahmati orang yang mengamalkan doa tersebut. Aamiin.
sumber: liqonet.blogspot.com

BACA JUGA:

Jangan Lakukan 8 Hal Ini Pada Anak!

Ukthi, Inilah Dia Cara Mudah Mengajari Anak Menghafal Al Quran

02.41 Add Comment
Pendidikan Agama di berikan kepada anak sejak dini atau saat mereka masih kecil, menghafal Al-Quran dan mengajarkan sunnah seperti apa yang telah dicontohkan untuk panutan kita yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena cara ini adalah bentuk pembelajaran untuk menjadikan generasi yang unggul baik dalah segi dunia ataupun untuk bekal akhirat kelak.

Di bawah ini adalah beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengajarkan anak menjadi orang yang mencintai al Quran serta mau menghafalnya.

Seperti cara yang dikutip dari halaman fanspage Ustad Yususf mansur di bawah ini :

1. Bayi (0-2 Tahhun)
  • Bacakan Al Qur’an dari surat Al fatihah
  • Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
  • Tiap 1 waktu satu surat diulang 3 x
  • Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan cara yang sama
  • Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1 x 2
2. Diatas 2 Tahun
  • Metode sama dengan teknik pengajaran yang sama pada bayi sebelumnya. Namun jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, dari 5 hari menjadi 7 hari
  • Sering didengarkan murattal qur’an
3. Diatas 4 Tahun
  • Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
  • Ajari muraja’ah/mengulang-ulang sendiri
  • Ajari menghafal sendiri
  • Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga
  • Waktu menghafal 3 – 4 x perhari
Tiga cara diatas adalah metode sederhana yang cukup ampuh dalam membimbing seorang anak untuk bisa menghafal Al-qur’an, semoga kita sebagai orangtua atau wali yang bertanggung jawab, bisa sama-sama mencoba menerapkan atau mempraktekkannya kepada anak, adik, saudara atau orang lain sekalipun yang memiliki tekat sungguh-sungguh dalam mempelajari Al-qur’an

Ada sebuah doa yang bagus, dan sekiranya perlu kita lantunkan setiap kali memulai atau sesudah mengajarkan Al-qur’an pada anak, berikut doanya.
Allaahummaj’alna fii ahli Qur’an , Allaahumma baarik fi auladina wa dzurriiyatina bil Qur’an, Allaahummarzuqna istiqomah fi tilawatil wa hifzil Qur’an..Aamiin Allaahumma Aamiin
”Yaa Allah, jadikan kami sebagai ahlulQur’an, Yaa Allah, berkahilah anak & keturunan kami dengan Qur’an, Yaa Allah, berikanlah kami keistiqomahan dlm membaca & menghafal Al-Qur’an… Yaa Allah, kabulkanlah doa dan permohonan kami.”

Semoga bermanfaat, silahkan sebarkan semoga semakin banyak dari kita yang lebih dekat dan memuliakan Al-qur’an. Aamiin InsyaAllah.

ORANG TUA HARUS TAHU... INILAH 7 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Mendengarkan Orang Tua

19.31 Add Comment

Berbicara kepada anak dan mereka mau mendengarkan kadang menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Sering dijumpai saat kita berbicara justru anak tidak mendengarkan dan tidak merespon. Ini bukan terutama kewajiban anak harus mendengarkan setiap perkataan orangtua. Bukan tentang apa yang disampaikan orangtua harus didengar anak. Bukan pula tentang memaksa anak agar selalu mendengarkan setiap pembicaraan orangtua.
Anak-anak memiliki banyak hal yang dipikirkan. Menarik minat mereka di tengah banyak hal yang dipikirkannya memerlukan teknik berkomunikasi secara efektif. Selain itu, terampil menjadi pendengar yang baik perlu diajarkan sejak dini. Kelak ketika dewasa mereka memiliki keterampilan mendengarkan yang baik. Bukankah tidak sedikit orang dewasa yang rajin menyita perhatian orang lain tanpa diimbangi keterampilan mendengarkan?  
Sahabat Ummi, semoga langkah berikut ini memudahkan kita menarik minat anak mendengarkan pembicaraan kita.
1. Berbicaralah ketika kita sudah menarik minat perhatiannya
agaimana cara merebut perhatian anak? Kita tidak bisa memberi perintah dengan berteriak dari ruang sebelah. Atau menyuruh anak sarapan sementara kita berbicara kepadanya sambil suntuk memainkan gadget. Cara seperti itu tidak efektif. Pembicaraan kita akan menjadi suara yang berlalu begitu saja.
Letakkan gadget. Berjalanlah mendekati anak. Sejajarkan posisi komunikasi kita dengannya. Bila anak posisinya duduk, kita duduk di sampingnya. Lalu jalinlah koneksi. Menyentuh lengannya dengan lembut, atau bertanya, “Wah lagi asik main apa ini?”, – merupakan cara menjalin koneksi. Kita tunggu beberapa saat sampai anak menoleh dan menatap mata kita. Kemudian berbicaralah padanya dengan santun. “Ayo, kita sarapan dulu.”
2. Jangan mengulang perintah yang sama
Bila ajakan, perintah, pertanyaan belum direspon anak, kita tidak perlu mengulangnya sampai beberapa kali. Selain komunikasinya tidak efektif, hal ini disebabkan kita belum mendapat perhatian dari anak. Kita perlu kembali menempuh langkah pertama di atas.
3. Menggunakan kalimat efektif
Kalimat efektif memudahkan pendengar atau pembaca memahami isi pesannya. Efektif memilih diksi, efektif merangkai kalimat, efektif intonasi nadanya. Saat kita sudah merebut perhatiannya, memberi perintah atau bertanya pada anak tidak perlu menggunakan kalimat-kalimat panjang. Semakin panjang dan berbelit-belit akan menurunkan minat anak untuk mendengarkannya.
Singkat dan jelas. Ini keterampilan berkomunikasi yang patut dilatih di tengah kebiasaan kita yang cerewet dan gemar mengulang-ulang satu perintah. Bila cukup dengan kalimat: “Ayo kita shalat,” tak perlu kita berceramah panjang lebar tentang shalat.
4.  Melihat dari sudut pandang anak
Untuk menjalin komunikasi efektif dengan anak diperlukan kepiawaian memasuki dunia anak dan melihatnya dari sudut pandang mereka. Kita yang sedang sibuk beraktivitas rasanya enggan juga diminta untuk tiba-tiba menghentikannya. Anak pun demikian: mereka memiliki dunia sendiri yang kadang terlewat dari pertimbangan sikap berpikir orangtua.
“Asik ya bermain bongkar pasang. Sekarang kita shalat dulu yuk!” atau kita menggunakan simulasi ajakan yang lain. Prinsipnya melihat dari sudut pandang anak untuk mengempati perasaannya.
5. Bekerja sama dengan anak
Resistensi menerima perintah sudah menjadi naluri setiap orang. Tidak ada anak yang suka diperintah. Alih-alih memberi perintah dengan bahasa yang vulgar, kita bisa mencoba dengan teknik yang lebih manusiawi. Ajaklah anak bekerja sama menentukan pilihan. “Waktunya mandi, sayang. Sekarang atau lima menit lagi. Tidak pakai rewel ya.” Ketika lima menit sudah lewat, ajaklah anak mandi.
Ini memang tidak mudah. Saya sering terlibat tawar menawar. Anak menawar sepuluh menit. Saya tawar tujuh menit untuk menghentikan permainannya. Deal. Tidak terasa kita sudah mengempati anak. Kehangatan bercengkerama tetap terjaga.
6. Mengendalikan marah
Jangan memberi perintah atau nasehat ketika kita sedang marah. Ini sama sekali tidak efisien. Kondisi marah menyebabkan kita sulit mengendalikan pembicaraan. Komunikasi menjadi tidak efektif. Anak pun dicekam rasa takut. Ia akan menghindar dari semua perkataan kita.
Tetap tenang. Tarik nafas. Memastikan emosi kita sudah tenang terlebih dahulu, baru kita berbicara pada anak.
7. Menjadi pendengar yang baik bagi anak
Langkah ketujuh ini sepenuhnya bergantung pada sikap kita. Menuntut anak mau mendengarkan, kita awali dengan memberi contoh bagaimana menjadi pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif dijalin dengan prinsip keseimbangan. Kita dan anak menjadi komunikator yang baik, yang salah satu unsurnya adalah keterampilan mendengarkan.
Semoga tujuh langkah ini menginspirasi kita memberikan pola asuh yang santun, manusiawi, dan memanusiakan anak.
(ummi-online/muslimahzone.com)

Bunda Wajib Tau!! Ini Tips Turunkan Demam Anak Tanpa Obat Kurang dari 5 Menit

00.44 Add Comment





Banyak anak sering mengalami demam. Hal ini menyebabkan orang tua jadi panik dan khawatir. Tetapi sebenarnya, banyak penelitian yang menegaskan bahwa jika anak Anda mengalami demam, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.



Tapi, bukan berarti ini tidak perlu ditangani, kami akan memberikan solusi agar anak Anda merasa jauh lebih baik. Tapi ingat, jika setelah 3 hari demam anak Anda tak kunjung

video